|
|
Yaman berbatasan dengan Arab Saudi di utara, Laut Merah di Barat, Teluk Aden dan Laut Arab di selatan, di seberang Teluk Aden ada Somalia, Jibouti. Di sebelah Jibouti berderet Eritrea, Sudan, dan Mesir. Dengan demikian, semua negara itu (Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis. Tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.
|
Di Yaman, setiap satu dari tiga orang memiliki senapan. Senapan, granat, atau bahkan ranjau dijual bebas di pasar. Tapi, “kebetulan” mereka orang Arab dan orang Arab sudah sejak lama distereotipkan dengan kekerasan. Karena itu, orang Arab yang memegang senapan dipandang berbahaya dan identik dengan teroris. Lebih parah lagi, Yemen disebut-sebut sebagai failed state (negara gagal) dan failed state sering dinyatakan sebagai ‘tempat berlindung yang aman (safe haven) bagi berkembangnya terorisme’. Karena itulah, tuduhan bahwa Al Qaida sedang bersarang di Yaman sangat mudah diterima oleh opini publik.
|
Semua seperti kebetulan. Kebetulan, sepekan sebelum Natal, AS mengebom beberapa lokasi di Yaman yang dicurigai sebagai sarang Al Qaida. Kebetulan juga, di awal Desember, saat mengumumkan penambahan 30.000 pasukan AS ke Afghan, Obama sudah menyebut-nyebut Yaman, “Where al Qaeda and its allies attempt to establish a foothold — whether in Somalia or Yemen or elsewhere — they must be confronted by growing pressure and strong partnerships.”
|
Selama empat bulan ini berita tentang Syiah Yaman menghiasi pelbagai media baik cetak, audio dan audio visual. Sebagian pengikut Ahlul Bait di Yaman kini tengah berada dalam posisi yang sangat genting dari sisi sejarah. Dari satu sisi kebencian pemerintah Yaman dan dari sisi lain koordinasi militer Arab Saudi dan anasir-anasir Baath Irak berusaha keras menekan orang-orang Syiah Provinsi Saadah. Selain itu berkali-kali pula mesin-mesin propaganda negara-negara Arab melemparkan isu soal hubungan dekat gerakan Al-Hauthi dengan Republik Islam Iran dan upaya pendukung al-Hauthi untuk membentuk kembali sistem Imamah Zaidiah di Yaman. Tentu saja klaim ini juga dibantah berkali-kali oleh Badruddin Al-Hauthi, Syeikh Jarudiah dan Pemimpin Al-Hauthi. Untuk menjelaskan posisi orang-orang Syiah Yaman saat ini, akan lebih baik bila menengok sekilas sejarah para pengikut mazhab Zaidiah.
|
Husein Badruddin Thaba’thaba’i Al-Hauthi adalah anak Allamah Sheikh Badruddin Al-Hauthi, tokoh Syiah Zaidiah Yaman. Husein Al-Hauthi adalan pemimpin kebangkitan Zaidiah Yaman. Ia syahid dalam perang lima tahun lalu dan kini saudaranya menjadi komandan gerakan Al-Hauthi. Namun sampai kini kecintaan terhadap Husein Al-Hauthi masih terpatri dalam dada setiap pengikut Syiah di Yaman.
|
Perang Yaman Pertama Peristiwa 11 September 2001 di New York punya dampak global. Pasca peristiwa ini dunia menyaksikan terbentuknya semacam perjanjian anti terorisme yang dipimpin oleh Amerika. Yaman sebagai salah satu sekutu penting Amerika dalam perang melawan terorisme di Timur Tengah memaksa negara ini menerima militer dan intelijen Amerika. Lawatan rahasia sejumlah delegasi Zionis Israel ke San’a juga merupakan bagian tak terpisahkan dari paket kehadiran Amerika di Yaman. Kenyataan ini tentu saja diprotes oleh pelbagai kalangan di negara ini.
|
Negara Yaman berada di titik paling selatan dari semenanjung Arab. Sejak permulaan Islam Yaman menjadi pusat penting pertumbuhan pecinta Ahul Bait. Sementara Provinsi Saadah, sebuah provinsi yang terdiri dari gunung-gunung berada sekitar 243 kilometer dari utara ibu kota Yaman, San’a. Mayoritas penduduk Provinsi Saadah adalah pemeluk Syiah dan pengikut mazhab Syiah Zaidiah.
|
|