|
Mengapa Al-Hauthi Bangkit? |
|
|
|
Husein Badruddin Thaba’thaba’i Al-Hauthi adalah anak Allamah Sheikh Badruddin Al-Hauthi, tokoh Syiah Zaidiah Yaman. Husein Al-Hauthi adalan pemimpin kebangkitan Zaidiah Yaman. Ia syahid dalam perang lima tahun lalu dan kini saudaranya menjadi komandan gerakan Al-Hauthi. Namun sampai kini kecintaan terhadap Husein Al-Hauthi masih terpatri dalam dada setiap pengikut Syiah di Yaman.
Husein Al-Hauthi memulai pendidikan dasarnya di tempat tinggalnya di Provinsi Saadah, utara Yaman. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di sekolah Wahhabi yang berafiliasi ke Gerakan Ikhwanul Muslimin Yaman.
Pada tahun 1991, Partai Sosialis berkuasa di Yaman berusaha untuk mencegah meluasnya pemikiran ekstrim Partai Asosiasi Reformasi Yaman dan untuk itu mereka membentuk Partai Al-Haq yang pandangannya berdasarkan Islam. Husein Al-Hauthi termasuk pendiri partai ini.
Pada tahun 1993 Husein Al-Hauthi mengikuti pemilu legislatif dan terpilih menjadi anggota parlemen. Pada tahun 1996 mulai terjadi friksi dan perpecahan dalam tubuh pemerintah Yaman. Hal itu diakibatkan kembalinya warga Yaman bermazhab Wahhabi dari Afganistan. Demi mencegah tersebarnya pemikiran ekstrim dan keras ini, pemerintah meminta bantuan Husein Al-Hauthi.
Pada tahun 1997 Husein Al-Hauthi keluar dari Partai Al-Haq dan membentuk Gerakan Al-Syabab Al-Mukmin (Pemuda Mukmin). Di masa itu pemerintah masih memberikan bantuan kepada gerakan ini dan memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas melawan pemikiran Wahhabi. Pemerintah Amerika waktu itu juga menekan pemerintah Yaman untuk memberantas AlQaeda.
Namun segalanya berubah total pada tahun 2003. Sekitar 650 anggota Gerakan Al-Syabab Al-Mukmin ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara akibat menyerukan sloban “mampus Amerika dan mampus Israel”. Upaya keras Husein Al-Hauthi dan teman-temannya untuk membebaskan mereka tidak kunjung berhasil, bahkan mencapai jalan buntu. Sejak saat itu friksi antara Gerakan Al-Syabab Al-Mukmin dengan pemerintah semakin lebar. Awalnya pemerintah menekan gerakan ini lewat politik, namun lambat laun tekanan ini mulai memasuki tahapan militer dan hal itu terus berlangsung hingga saat ini. Kini konstelasi politik Yaman telah berubah seratus delapan puluh derajat. Bila sebelumnya untuk mencegah penyebaran Wahhabi, pemerintah memanfaatkan Husein Al-Hauthi dan para pendukungnya, kini pemerintah malah meminta bantuan Wahhabi untuk menumpas Gerakan Al-Syabab Al-Mukmin.
Patut diketahui bahwa Dinas Rahasia Amerika (CIA) memiliki cabang resmi di Yaman dan menjadikan Al-Syabab Al-Mukmin sebagai musuh nomor wahid Amerika di negara ini.
Masih dalam upaya menekan gerakan ini, anasir-anasir Baath Yaman berusaha menyelewengkan opini publik dunia bahwa tujuan utama kebangkitan Partai Al-Syabab Al-Mukmin adalah upaya untuk mengubah kawasan Saadah menjadi markas mazhab Syiah 12 Imam. Sekaitan dengan hal ini, Jenderal Qasim Salam, Ketua Partai Baath Yaman dalam pernyataan resminya mengatakan, “Al-Hauthi, komandan orang-orang Syiah Yaman yang tidak puas punya keinginan untuk mengubah Provinsi Saadah sebgai pusat Syiah 12 Imam.”
Dalam wawancaranya dengan sebuah surat kabar Yaman Qasim Salam mengatakan, “Keluarga Al-Hauthi bahkan mengaku dirinya sebagai Imam. Mereka adalah keluarga yang berperang melawan Ali Abdullah Saleh, Presiden Yaman di Saadah, namun pasukanpemerintah berkali-kali berhasil mengalahkan mereka!” Jenderal Qasim Salam terus menuduh orang-orang Yaman sebagai para separatis yang ingin memisahkan diri dari Yaman. Ditambahkannya, “Mereka ingin melakukan hal yang sama ketika sebelum ini dilakukan oleh para separatis Yaman selatan.”
Jenderal Qasim Salam juga menyinggung kecenderungan para pendukung Al-Hauthi kepada Syiah 12 Imam dengan ucapannya, “Para pendukung Al-Hauthi berusaha mengubah Saadah yang ada saat ini agar membenci umat Islam dan agama Islam. Oleh karenanya, mereka berusaha menyebarkan Syiah 12 Imam di sana.”
Menarik mencermati tuduhan yang dialamatkan jenderal Baath ini. Karena mayoritas orang-orang Syiah di Saadah bukan 12 Imam melainkan Zaidiah. Orang Syiah Yaman mencapai 42 persen dari populasi 20 juta rakyat Yaman. Para pemeluk Zaidiah menyadi mayoritas Syiah Yaman setelah itu diikuti Ismailiah dan terakhir 12 Imam.
Sementara itu, sebagian penasihat politik Irak anggota Partai Baath waktu itu yang punya hubungan dekat dengan para pejabat senior Yaman menasihati mereka agar segera menghabisi kebangkitan Husein Al-Hauthi. Karena bila tidak segera dilakukan, ia akan muncul bak Sayyid Muhammad Baqir Shadr atau Imam Khomeini yang berhasil mengubah total negaranya.
Mencermati dengan seksama masa awal serangan militer Yaman terhadap posisi-posisi pendukung Al-Hauthi ada beberapa poin yang menjadi terang. Serangan Amerika ke Irak terjadi di akhir tahun 2003, sementara serangan terhadap pendukung Al-Hauthi dilakukan awal-awal tahun 2004. Sebab dekatnya masa terjadinya dua serangan ini kembali pada satu hal. Pasca lengsernya rezim Saddam Husein, banyak perwira senior militer Irak yang mencari suaka ke Yaman. Dekatnya hubungan mereka dengan Ali Abdullah Saleh membuat mereka dimanfaatkan sebagai penasihat militernya dan yang lain diperbantukan di tempat-tempat strategis lainnya. Para perwira inilah yang mendorong para pejabat Yaman menyerang para pendukung Al-Hauthi dan membasmi mereka.
Di sisi lain, setelah beberapa waktu perang pertama berlalu antara militer Yaman dan pendukung Al-Hauthi, ada pihak lain di Yaman yang mulai mengkawatirkan kemenangan Al-Syabab Al-Mukmin. Pihak ini adalah gerakan Wahhabi. Oleh karena itu, mereka segera terjun dalam medan pertempuran dan mulai memberikan dukungan di belakang layar dan rahasia kepada pemerintah Yaman guna menumpas orang-orang Syiah negara ini.
Di akhir perang ketiga tahun 2006, 22 mufti Wahhabi Arab Saudi mengeluarkan pernyataan yang isinya selain mengritik keras Hizbullah Lebanon, mereka melontarkan sejumlah tuduhan kepada para pendukung Al-Hauthi. Mereka mengatakan, “Sebagaimana Hizbullah Lebanon dan para pendukungnya di Irak telah menduduki tanah Ahli Sunnah, orang-orang Syiah Yaman juga ingin menguasai negara Yaman. Oleh karena itu, harus segera ada upaya untuk memerangi mereka.”
Pasca kemenangan relatif para pendukung Al-Hauthi dalam perang kedua tahun 2005 di kawasan utara Yaman yang berdekatan dengan perbatasan Arab Saudi, Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh melawat Arab Saudi secara diam-diam dan bertemu dengan Raja Abdullah. Ali Abdullah Saleh melaporkan secara lengkap kondisi di medan tempur dan memperingatkan Raja Abdullah akan semakin melebarnya konflik bersenjata hingga ke daerah-daerah selatan Arab Saudi. Untuk mencegah perang meluas Ali Abdullah Saleh meminta bantuan Raja Arab Saudi.
Raja Abdullah juga mencemaskan instabilitas yang bakal terjadi di kawasan selatan negaranya dan dengan sigap menyatakan kesiapannya membantu Yaman. Arab Saudi memberikan bantuan dana dan persenjataan militer kepada Yaman. Tidak cukup dengan bantuan dana dan persenjataan, Dinas Rahasia Arab Saudi segera memanggil para serdadu Wahhabi dan AlQaeda dari Afganistan, Irak dan dari negara-negara lain guna membantu pemerintah Yaman menumpas kebangkitan Al-Hauthi.
Para analis politik punya satu keyakinan betapa Arab Saudi sebenarnya punya kepentingan lebih besar untuk menghancurkan kebangkitan gerakan Syiah Yaman ini. Karena Arab Saudi tahu betul kemenangan mereka sama artinya dengan penyebaran pemikiran Syiah di Timur Tengah.[islammuhammadi/sl] Bersambung….
Users' Comments (0)
|
|
|