Khath Imam (VI) Allah befirman dalam KitabNya:”Orang orang yang beriman dan berhijarah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah, dan itulah orang orang yang yang mendapat kemenangan”.(At Taubah 20). Sesungguhnya syahadah dijalan Allah adalah salah satu jalan untuk sampai pada ridha Allah dan dekat kepadaNya. Syahadah adalah terbunuhnya seseorang karena tujuan taat kepada Allah.
HTML clipboard Dalam pandangan Imam Khomeini qs dan khathnya, syahadah memiliki berbagai aspek mendasar, sebagaimana apa yang dikatakan beliau, mulai dari pahala Syahid, bagaimana seorang insan untuk sampai ke maqam syahadah di jalan Allah hingga sampai pada kumpulan syuhada’ yang hidup. Pahala Syahid Berangkat dari ungkapan Imam Khomeini qs yang membawakan riwayat masyhur dari Rasulullah tentang pahala syuhada’:”Diatas semua (nilai) kebaikan terdapat kebaikan smapai dengan terbunuh dijalan Allah, bila terbunuh dijalan Allah tidak ada lagi (nilai)kebaikan diatasnya…..”.)(Al Kafi jld 2 hal 249). Berdasarkan dengan hadits ini dan juga banyak lagi hadits yang lain maka Imam Khomeini qs mengutarakan ketidak mampuannya mementukan dengan pasti kedudukan dan pahala syahid. Beliau berkata:”Kami, para penulis, khatib dan ahli bahasa, kalau hendak mengutarakan tentang nilai dan pahala amal syuhada’ dan mujahidin dijalan Allah dan keagungan yang dihasilkan dari syahdahnya, maka akan berhadapakan dengan ketidakmampuan. Apa yan ada diakal kami tidak lain dari pada ketidak mampuan dan kelemahan untuk dapat meliaht tingkatan maknawiyah, masalah insaniyah dan Ilahiyah yang dihubungkan dengan syahadah”. Barang siapa merujuk kepada ahadits tentang syahdah dan pahala darinya, maka dia akan terhenti posisi pada ketidak mampuan untuk menentukan, lebih lagi sebenarnya manusia tidak akan dapat menjelaskan dengan baik maqam hakiki syuhada’, sebagaimana Imam qs berkata:”Tidak mungkin ada kata dan ungkapan yang dapat menjelaskan (posisi) mereka yang hijrah dari Baitul tabiat (alam natural) yan g gelap menuju Allah dan rasulNya dan berada di ruang kesuciannNya”. Falsafah Syahadah Sebahagian orang mengatakan bahwa syahadah adalah kerugian atau luka pada jasad umat, karena hanya generasi mudalah yang menghadapi keerugian pertumbuhan generasi dalam umat. Hal dapat terjadi kalau saja tujuan dari pada jihad hanya untuk jasad kita saja, tapi tujuan dari jihad; adalah untuk mencapai tujuan manusiawi yang lebih besar sebagaimana diinginkan Allah bagi manusia, yaitu sampai pada ketaatan pada Allah, melalui pelaksanaan taklif Ilahi denganmenjaga karamah (kemuliaan) umat dan mempertahankan kesucian muslimin, Imam Khomeini qs berkata:”Menanglah dari hawa nafsu kalaian, kalian berada dibelakang jabhah (medan perang)dan saudara kamu ada di jabhah, perangi dirimu, dan ketahuilah kehidupan keabadian, dan ini adalah kehidupan hewaniyah materi yang kan hilang, maka kalian sebenarnya dibantu. Selama kalian berakaidah seperti ini maka kalian akan selalu menang sekalipun kalian secara lahiriyah dan material hancur”(Shahifah Nur jld 16 hal 58). Imam menjelaskan tentang masalah yang penting sehubungan tujuan maqam syuhada’, karena meyeimbangkan syhadah dengan nilai materi duniawi akan merendahkan makna syahadah, beliau berkata:”Antek Amerika harus mengetahui bahwa syhadah di jalan Allah tidak mungkin dibndingkan dengan kekalahan dan kehancuran dimedan perang. Maqam syahdah adalah puncak ubudiyah, sair dan suluk dijalan maknawi. Jangan rendahkan maqam syahdah dengan membandingkannya dengan kebebasan Khoramsyahr atau kota kota lainnya, karena hal itu salah”. (Shahifah Nur jld 29).Jadi tujuan hakiki yang ditetapkan Allah untuk manusia diringkas dengan ungkapan:”Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.(Az Zuriyat 56). Syahdah adalah jalan yang terdekat (short cut) untuk mencapai buah ibadah yaitu dekat dengan Allah. Bagaimana menjadi syahid?! Tidak diragukan bahwa syhadah adalah nikmat Ilahi yang dikaruniuakanNya karena manusia tidak dapat tidak dapat mejadikannya. Imam Khomeini qs mengatakan:"Sesungguhnya syahdah untuk kita adalah karunia yang besar". Tapi hal ini bukan bermakna bahwa Allah mengkaruniakannya kepada setiap orang dengan rambang, Imam Khomeini qs mengatakan bahwa:"Syahadah adalah hadiyah dari Allah untuk mereka yang layak". Maka manusia berusaha mempersiapakan sifat syahdi pada dirinya sehingga layak untuk menerima hadiyah Ilahiyah tersebut. Diantara persiapan tersebut: I. Zuhud di dunia Kalau dunia ada harganya maka ianya adalah kebun untuk akherat, masjid auliya' Allah, jalan mencapai tempat ridha Allah. Kalau dilepaskan dari ini semua dan melihatnya (dunia) dengan pandangan materi maka tidak akan ada makna dan artinya sama sekali. Sebagaimana di nyatakan oleh Amiril Mukminin Ali as; difirmankan Allah:"Rumah akherat itu Kami jadikan untuk mereka yang tidak menghendaki ketinggan di bumi dan tidak (pula) kefasadan, dan akibat yang baik bagi orang yang bertaqwa"(Al Qashash 83), demi Allah, telah kalian dengar dan fahami, tapi mereka telah dunia terbalik dimata mereka….. Maka mujahid dijalan Allah wajib zuhud di dunia ini karena memahami posisi syhada':"Dan apa bila mereka terbunuh di jalan Allah atau mati, (maka mereka mendapat) ampunan Allah dan rahmat (yang lebih baik dari harta) yang dikumpulkan".(Al Imran 157). Ketika manusia lebih dekat dengan akherat dan jauh dari keterikatan duniawi maka sebeanrnya dia telah mendidik dirinya untuk mempersiapkan dalam perjalanan syuhada' sebagai pilihannya untuk mendapatkan ketetapan dari Allah sehingga dapat menyandang pakaian kemuliaan. Imam Khomeini qs telah menekankan bahwa dengan ungkapannya:"Sesungguhnya dunia dengan harga dan nilainya akan sangat kecil dibanding dengan pahala yang ditetapkan bagi mujahid di jalan Allah". "Sesunguhnya jihad di jalan Allah sangat agung dari setiap perbuatan yang dilakukan untuk tujuan duniawi". II. Berhubungan dengan Madrasah Asyura Sejarah Islam penuh dengan kafilah jihad dan syahadah, dan bukan merupakan hal yang aneh bagi muslimin untuk memberikan pemudanya sebagai syuhada' bagi Allah dengan mengorbankan darahnya; "Kematian bagi kami adalah 'adah (kebiasaan)". Madrasah 'Asyura adalah satu pendidikan yang sangat besar tidak berbanding, ia adalah gudang besar dari makna akhlaq, darinya manusia dapat belajar agama dan kemanusiaan seperti pensucian, pengorbanan, kemuliaan dan keagungan diri, istiqamah dalam kehidupan sehinggalah Imam Khomeini qs mengatakan:"Kita tidak khawatir kalau darah suci pemuda kita ditumpahkan dijalan Islam, tidak khawatir kalau menjadi pewaris para syuhada' yang agung, sesungguhnya syahadah merupakan metoda yang diridhai yang dijalani oleh syiah Amiril Mukminin Ali as sejak kemunculan Islam hinga hari ini". Metoda syahadah adalah metoda Muhammad dan Aali Muhammad sawa, metoda ini merupakan kebanggan yang diajarkan Ahlil Bait Nubuwah dan Wilayah kepada kelaurga dan pengikut mereka". "Umat Islam telah bangkit mulai dari mihrab masjid Kufah hingga ke padang Karbala di sepanjang sejarah merah Syiah, pengorbanan ini telah diberikan mereka untuk Islam dan jalan Allah". Selama terbunuh merupakan kebiasaan maka tidak akan terjadi kesan negatif pada masyarakat, tidak juga menimbulkan penyesalan dan tekanan (kejiwaan) sebagaimana terjadi pada masyarakat lain. Revolusi Imam Husein as membawa risalah yang ditulis dengan darah dipunggung bumi, akan membakar apapun yuang menjadi penghalang sehingga pasti akan sampai pada telinga kita, yang akan siap akan menciptakan syuhda' setiap diperlukan Ilahiyah. Madrasah Asyura ini telah mampu memberikan kafilah syuhada' sepanjang perjalanan sejarah Islam. Imam Khomeini qs berkata:"Apapun, pena dan lisan kami akan lemah untuk mengungkapkan ketegaran pertahanan agung bagi jutaan muslimin, pencinta hidmat, pengorbanan, syahdah untuk negaranya, negara Imam Mahdi aj. Tidak mungkin untuk dapat menilai perjuangan, kepahlawanan, kebaikan dan berkah dari mereka putra putra maknawiyah dari bagi Kautsar Zahra' as. Tentulah bahwa kepahlawanan ini tumbuh dari metoda Islam asli dan Ahlil Bait as dan dari barakat wilayah Imam 'Asyura as". III. Hubungan dengan Syuhada' Tambahan dari hubungan dengan madrasah bersejarah agung ini, perlu pula untuk menggunakan kesempatan dari cahaya syuhada' masa ini dan meningkatkan hubungan dengan mereka. Berusaha untuk mengetahui jiwa, permasalahan dan juga membaca wasiat mereka. Karena wasiat mereka akan membangkitkan jiwa, menenangkan perasaaan yang ditakut takuti syetan dan membungkam suaranya kemudian kembali kepada kedamaian. Berhubungan dengan syuhada' akan mendekatkan jiwa manusia kepada jiwa mereka, sehingga jiwa akan menyatu dan menjadi siap untuk menerima karunia Ilahi ini, yaitu syahadah. Imam Khomeini qs berkali kali menekankan hal ini di berbagai kesempatan; bahwa syuhada adalah pemimpin perjalanan, mereka adalah guru didunia jihad, dan kita perlu untuk menggunakan kesempatan ini, sebagaimana dikatakan:"Sesungguhnya pemimpin kita ada anak 12 tahun – mengisyaratkan kepada Syahid Husein Fahmideh yang melakukan amaliyah isytisyhadiyah dengan meledakkan dirinya dibahwa tank Iraq – pemilik hati kecil dimana dia diatas dari pada ratusan ungkapan dan pena kita, dia yan melemparkan dirinya kebawah tank musuh, meledakkan dirinya sendiri, kemudian meminum kesegaran air syahadah". "Mereka yang berkorban dengan darahnya yang suci sehingga menjadi penerang bagi perjelanan kebebasan generasi yang akan datang". " Sesungguhnya dari setiap sentuhan atau dari setiap tetes darah yang ditumpahkan syuhada' akan melahirkan mujahidin yang perkasa". IV. Motivasi dan semangat yang tinggi Imam Khoemini qs berkata:"Wahai syuhada:"Wahai Syuhada' sesungguhnya kalian adalah pemerhati yang benar, yang diingat sebagai penentu motivasi dan menetapkan semangat untuk hamba Allah yang mukhlashin, yang mana darah dan jiwa besar mereka telah menuliskan paling besar dan agungnya ibadah dihadapan Allah. Personafikasi dari jihad akbar dengan jiwa dan jihad asghar dengan musuh, hakikat kemenangan darah melawan pedang, serta kemenangan iradah manusia dari was wasnya syaitan. Para syahada' hidup!. Sangat disayangkan kalau ditemukan adanya mujahiin yang mati di atas tempat tidurnya setelah puluhan tahun berjihad. Sesungguhnya rasa sayang ini tidak pada tempatnya. Karena sesungguhnya kalau niat diperbaharui, dan menetapkan niat kepada Allah sehingga sampai pada posisi cinta makhluq pata Khaliqnya, zuhud di dunia, tumbuhnya syahadah, berhubungan dengan madrasah Karbala, maka kalian bukan hanya insan yang patut untuk menjadi posisi syahadah, tapi hakikatnya sekarangpun adalah syahid, syahid yang hidup. Ini ditekankan dalam berbagai hadits dan riwayat. Dari Rasulullah sawa:"Ditanyakan kepada Allah tentang syahdah dengan benar, Allah menjawab tentang maqam syuhada' sekalipun mati di tempat tidurnya". Dalam riwayat lain disebutkan:"Barang siapa meminta untuk mendapatkan syahid dengan benar, (Allah) akan memberinya sekalipun tidak terluka". Maka tetaplah bersama syuhada' dan dijalan mereka, bawalah disebelahmu maka tentulah akan menjadi syahid".[im/r]
Users' Comments (0)
|
|
|