1922: Dalam Buku Putih, Winston Churchil, Sekretaris Kolonial Inggris, mengeluarkan Yordania dari Deklarasi Balfour dan menyetujui imigrasi kaum Yahudi bertambah sampai sesuai kapasitas ekonomi Palestina.
Sebelum Masehi (S.M) 3000-2000 S.M: Awal Jaman Perunggu. Hijrah dan menetapnya suku Kan’an Arab. Sekitar 1800 S.M: Nabi Ibrahim as hijrah dari Sumer ke Palestina. Sekitar 1650 S.M: Nabi Yaqub dan putra-putranya hijrah dari Palestina ke Mesir. Sekitar 1250 S.M: Kan’an dikuasai Bani Israel. Sekitar 985 S.M: Pendirian kerajaan Nabi Daud di Palestina. 965-928 SM: Jaman kekuasaan Nabi Sulaiman dan pembangunan rumah ibadah di Yerusalem (Al-Quds). 928 SM: Pemerintahan Bani Israel pecah menjadi dua, Israel dan Judah. 721 SM: Bangsa Assyirian menaklukkan Israel. 586 SM: Babylonia di bawah pimpinan Nebuchadnezzar menakulkkan kerajaan Judah. Perpindahan besar-besaran kaumKuil Solomon Yahudi ke Babylonia dan penghancuran rumah ibadah. 539 SM: Bangsa Persia (Iran) menaklukkan Babylonia dan Palestina pada masa pemerintahan Cyrus dan kembalinya sebagian kaum Yahudi ke Palestina. Pembangunan rumah ibadah baru. 333 SM: Iskandar dari Macedonia menaklukkan kekaisaran Persia. Yunani menguasai Palestina. 323 SM: Menyusul wafatnya Iskandar orang-orang Ptolemia Mesir dan Seleucida Suriah di Palestina secara bergantian menguasai Palestina. 165 SM: Warga Makabi menentang Raja Seleucida dan mendirikan sebuah negara Yahudi. 63 SM: Palestina jatuh ke tangan kekaisaran Romawi. 4 SM: Kelahiran Isa al-Masih di Palestina (menurut para sejarawan). Setelah Masehi (M) 70 M: Setelah perang berdarah di Palestina, rumah ibadah kedua dihancurkan atas perintah Titus dari Romawi. 132-135: Pemberontakan warga Yahudi dipimpin oleh Barkokhba dan penumpasan yang dilakukan pemerintahan Romawi. Kaisar Hadrian melarang kaum Yahudi masuk ke Yerusalem dan membangun sebuah kota Romawi di atas reruntuhannya. 330-638: Palestina berada di bawah pemerintahan Byzantium (Romawi Timur). Kawasan dengan cepat mengalami kristenisasi. Pada tahun 614 M, Palestina direbut oleh Dinasti Sasani Persia namun tak lama berselang diambil alih kembali oleh Pemerintahan Byzantium. 608-620: Masa kenabian Nabi Muhammad saww sebelum hijrah ke Madinah. Mi’raj Rasulullah dari Masjid al-Aqsha di Yerusalem, menuju langit. 638: Di bawah kekhalifahan Umar bin Khattab, kaum muslimin menaklukkan Palestina. 661-750: Palestina berada di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah dari Syam. Pembangunan Kubah al-Sakhrah oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan pembangunan kembali Masjid al-Aqsha oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. 750: Awal pemerintahan Dinasti Abbasiah dari Bagdad di Palestina. 969: Dinasti Fathimi dari Mesir yang mengaku berasal dari putri Nabi, Fathimah as dan imam pertama Syiah, Ali as, menguasai Palestina. Dinasti Fathimi secara resmi mengumumkan bahwa mereka adalah khalifah tandingan Dinasti Abbasiah. 1071: Dinasti Saljuq dari Isfahan menguasai Yerusalem dan beberapa daerah Palestina. Yerusalem secara resmi masuk ke dalam pemerintahan Dinasti Abbasiah. 1099-1187: Pasukan Salib yang berasal dari berbagai negeri Eropa menaklukkan Palestina dan mendirikan sebuah kerajaan Romawi di Palestina. Setelah penaklukan al-Quds, mereka membunuh secara massal penduduk kota. 1187: Panglima perang muslim asal Kurdi, Shalahuddin Ayyubi mengalahkan tentara Salib di Hittin, Palestina Utara dan menaklukan Yerusalem. Dia mendirikan Dinasti Ayyubi dan memerintah Palestina dari Kairo. 1260: Dinasti Mameluk Mesir menggantikan Dinasti Ayyubi dan memerintah di Palestina. Mereka mengalahkan bangsa Mongol dalam perang di ‘Mata Air Jalut’ dekat Nazareth. Koalisi Bangsa Mongol dan tentara Salib menderita kekalahan. 1291: Dinasti Mameluk menaklukkan kubu pertahanan terakhir tentara Salib Acre dan Caesarea di Palestina. 1516-1917: Dinasti Ottoman memerintah Palestina. 1832-1840: Muhammad Ali Pasya (penguasa Mesir) untuk sementara waktu mengambil alih kekuasaan atas Palestina dari tangan Dinasti Ottoman. 1876-1877: Menurut undang-undang Kesultanan Ottoman, wakil-wakil Palestina dari Yerusalem ikut hadir dalam sidang parlemen pertama Kesultanan Ottoman di Istanbul. 1878: Pendirian perkampungan pertama Zionis di Palestina, bernama Petah Tekwah, yang mengandalkan pertanian. 1882: Kapitalis Yahudi Eropa, Baron Edmond Rothschild mulai memberikan dukungan finansial untuk perkampungan Yahudi di Palestina. 1882-1903: Gelombang pertama imigran Yahudi berjumlah 25 ribu orang memasuki Palestina yang sebagian besarnya berasal dari Eropa Timur. 1897: Kongres pertama Zionis di Basel, Switzerland mengeluarkan program yang menyerukan “pendirian sebuah tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina”. Kongres juga mendirikan Organisasi Zionis Internasional untuk bekerja mewujudkan seruan tersebut. 1904-1914: Gelombang kedua imigran Yahudi berjumlah 40 ribu orang tiba di Palestina sehingga menambah jumlah penduduk Yahudi di Palestina menjadi 6% dari total penduduk. Namun, pada Perang Dunia I, 40.000 orang Yahudi meninggalkan Palestina. 1909: Pendirian “Kibbutz” pertama (perkampungan pertanian eksklusif Yahudi). Pendirian kota Tel Aviv di Utara Jaffa. 1916: Sharif Husayn, pemimpin pemberontakan warga Arab di Mekkah yang menentang kekuasaan Ottoman, berhasil meyakinkan Mc Mohan, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, bahwa setelah akhir Perang Dunia I (1914-1918), negeri Arab keluar dari kekuasaan Ottoman dan membentuk sebuah negara yang bebas dan bersatu. Namun, tak selang berapa lama, dalam sebuah perjanjian rahasia (Sykes-Picot), Inggris dan Perancis membagi negeri-negeri Arab di antara mereka sendiri. 1917: Arthour Balfour, Sekretaris Luar Negeri Inggris, di dalam suratnya yang terkenal kepada Lord Rothschild mendeklarasikan bahwa Inggris mendukung pendirian negara Yahudi di Palestina. Deklarasi ini mengakibatkan terjadinya gelombang ketiga imigrasi kaum Yahudi ke Palestina pada tahun berikutnya. Deklarasi ini ditulis dengan koordinasi antara Lloyd George, Perdana Menteri Inggris, dan Woodrow Wilson, Presiden Amerika. 1918: Setelah penaklukan Palestina dan al-Quds, Jenderal Allenby, Komisaris Inggris, mendeklarasikan “Perang Salib berakhir”. 1919-1923: Terjadi gelombang ketiga imigrasi Yahudi ke Palestina berjumlah 35 ribu orang. Di akhir periode ini, tercatat kepemilikan tanah Yahudi berjumlah 3% dari total tanah Palestina. 1920: Dalam pertikaian antara kaum Yahudi dan warga Arab, beberapa orang tewas dan luka-luka. Komisi Penyelidik Inggris menganggap konflik disebabkan oleh pelanggaran terhadap perjanjian kemerdekaan bangsa Arab, sebagaimana konsekwensi politik dan ekonomi orang-orang Zionis. 1921: Pendirian Haganah, Organisasi Bersenjata Rahasia Zionis (beberapa dekade kemudian, organisasi ini menjadi bagian utama Partai Buruh Israel). Kaum Arab Palestina melanjutkan protes menentang imigrasi kaum Yahudi dan Deklarasi Balfour. Untuk itulah, seorang delegasi Palestina berangkat ke London. 1922: Dalam Buku Putih, Winston Churchil, Sekretaris Kolonial Inggris, mengeluarkan Yordania dari Deklarasi Balfour dan menyetujui imigrasi kaum Yahudi bertambah sampai sesuai kapasitas ekonomi Palestina. Sensus Inggris menunjukkan populasi Palestina berjumlah 757.182 orang, dengan 78% Arab Muslim, 11% Yahudi dan 10% Arab Kristen. 1923: Kekuasaan Inggris atas Palestina secara resmi dimulai. 1924-1928: Gelombang keempat imigran Yahudi berjumlah 67 ribu orang, yang setengahnya adalah Bangsa Polandia, meningkatkan populasi Yahudi menjadi 16% dan kepemilikan tanah Yahudi menjadi 4,2%. 1925: Partai Revisionis, didirikan di Paris oleh seorang Zionist Polandia Vladimir Jabotinsky, dan mengusulkan pendirian sebuah negara Yahudi meliputi Palestina dan Yordania, yang akan diwujudkan melalui kekuatan militer. 1929: Pertikaian berdarah antara warga Palestina dan kaum Yahudi di “Tembok Ratapan” di sekitar Masjid al-Aqsha. 1929-1939: Gelombang kelima imigran Yahudi berjumlah 250 ribu orang meningkatkan populasi Yahudi menjadi 30%. Di akhir periode ini, kepemilikan tanah Yahudi mencapai 5,7 % dari total tanah Palestina. 1931: Organisasi Bersenjata Irgun yang didirikan oleh Vladimir Jabotinsky, beberapa pemimpin kaum revisionis dan sejumlah orang yang membelot dari Haganah serta mendukung ide kronfrontasi yang lebih keras terhadap Palestina. Beberapa tahun kemudian, Organisasi ini menjadi bagian utama Partai Likud Israel. Putaran kedua sensus Inggris di Palestina: total populasi 1.035.154, Arab Muslim 73%, Yahudi 17% dan Arab Kristen 9% (populasi Yahudi sesungguhnya lebih tinggi lagi). 1935: Syeikh Izzuddin Qassam, seorang ulama Haifa dan pemimpin kelompok gerilyawan pertama yang terorganisir di Palestina, syahid dalam bentrokan dengan pasukan Inggris. Para pengikutnya kelak memainkan peranan penting dalam perjuangan mendatang. 1936-1939 : Pemberontakan negara-negara Arab menentang Inggris kian meluas. Irgun memperhebat serangan terhadap Palestina. Komisioner Inggris, Peel, merekomendasikan pembagian Palestina menjadi sebuah negara Yahudi meliputi Haifa, Galilee dan pantai Mediterania dengan luas wilayah 1/3 tanah Palestina, sisanya bergabung dengan Yordania dan al-Quds (Yerusalem) berada di bawah naungan Inggris. Untuk merealisasikan tujuan ini, warga Palestina yang tinggal di Negara Yahudi akan diusir. Mufti Hajj Ahmad Amin al-Husayni, pemimpin spritual al-Quds, menyatukan warga Arab dalam sebuah Komisi Tinggi Arab yang akan mengatur aktivitas politik Palestina. Komisi ini bekerja sampai pertengahan tahun 60-an. Komisi Tinggi Arab menolak rekomendasi Komisioner Peel dan mendesak persatuan dan kemerdekaan Palestina serta menghormati kaum minoritas termasuk hak-hak KaumYahudi. Warga Arab, dalam kongres nasional mereka di Suriah, menekankan ide ini serta meminta penghentian imigrasi Yahudi dan larangan perpindahan tanah warga Palestina ke tangan orang-orang Yahudi. Inggris mendelarasikan pembubaran Komisi Tinggi Arab dan berbagai organisasi Palestina lainnya, dan mengusir para pemimpin mereka. Pengadilan-pengadilan militer Inggris didirikan untuk menumpas pemberontakan besar bangsa Arab. 1938: Pemboman oleh Irgun menyebabkan 119 warga Palestina mati syahid. Sebuah pabrik senjata didirikan oleh Haganah. Dibentuk batalion khusus hasil kolaborasi antara Inggris dan pasukan Haganah untuk menekan Palestina. Inggris memperkuat pasukannya dan mengambil alih kekuasaan atas Yerusalem dari para pemberontak. 1939: Konferensi Palestina di London yang dihadiri oleh Arab dan Zionis tidak berakhir dengan sukses. Majlis Awam Rendah Inggris menjanjikan kemerdekaan bersyarat bagi Palestina setelah 10 tahun. Dalam periode ini kuota tahunan imigran Kaum Yahudi harus dilindungi dan warga Palestina tetap berhak atas tanah mereka. Menurut catatan Inggris, warga Palestina yang dibunuh tentara Inggris diperkirakan berjumlah 4.000 orang dan korban perang Yahudi adalah 500 orang. Dengan dimulainya Perang Dunia II, Haganah menghimbau pasukannya bergabung dengan tentara Inggris. 1940-1945: Dalam rangkaian Perang Dunia II, 60 ribu orang Yahudi berimigrasi ke Palestina sehingga populasi kaum Yahudi menjadi 30% dan kepemilikan mereka atas tanah meningkat menjadi 6%. 1944: Organisasi ekstrim Yahudi, Irgun dan Stern, memimpin aktivitas menentang Inggris. Menahem Begin, Pimpinan Irgun, kelak menjadi perdana Menteri rezim Zionis pada tahun 1977-1983. 1945: Setelah Perang Dunia II, propaganda menentang perlakuan Nazi Jerman oleh Yahudi Eropa semakin menghebat dan Haganah memulai migrasi ilegal besar-besaran Yahudi ke Palestina. 1946: Komite Inggris-Amerika untuk Palestina mengumumkan bahwa jumlah pasukan elit bersenjata Haganah sebanyak 65 ribu orang, Irgun 4.000 orang dan Stern 250 orang. Komite ini mengusulkan penerimaan 100 ribu pengungsi Yahudi lainnya ke Palestina dan mengakhiri perlindungan hak tanah warga Palestina. Palestina menjawabnya dengan serangan dan protes. Dalam sebuah deklarasi rahasia, masyarakat Arab mengingatkan Inggris dan Amerika bahwa dengan usulan seperti itu, minyak dan kepentingan ekonomi mereka di Arab akan terancam. Dalam sebuah ledakan bom di Hotel King David Yerusalem (al-Quds), terbunuh 91 orang yang terdiri dari tentara Inggris, warga Palestina dan pegawai tinggi Yahudi. Hotel ini adalah markas utama perwakilan pemerintah Inggris. Irgun bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. 1947: Setelah kegagalan Konferensi London, Inggris melimpahkan pemecahan permasalahan Palestina kepada PBB. Komite PBB memilih untuk membagi wilayah Palestina. Negara-negara Arab menolak hal tersebut dan menyatakan membela Palestina. Menteri Kolonial Inggris mendeklarasikan akhir kekuasaan Inggris atas Palestina. Agen-agen Yahudi menyetujui pembagian Palestina. Negara-negara Arab mengalokasikan dana 1 juta poundsterling untuk keperluan pertahanan Palestina. Dengan 33 suara setuju, 13 suara menolak dan 10 abstain, Majlis Umum PBB menyetujui pembagian Palestina dengan 56,5% wilayah Palestina berada di bawah otoritas Yahudi, 43% di bawah otoritas Arab Palestina dan Yerusalem (al-Quds) menjadi kawasan internasional. Masuknya aliansi pemenang Perang Dunia II dalam pemilihan meyebabkan pemboikotan sidang oleh negara-negara Arab. Haganah merayakan pesta di palestina dan mengumumkan mobilisasi umum. Liga Arab mengorganisir pasukan pembebasan Arab dari gerilyawan Palestina dan mengumumkan bahwa pembagian wilayah Palestina tidak legal. Liga Arab mengirimkan 10 senapan, 1 juta poundsterling dan 3.000 sukarelawan perang kepada pasukan pejuang Palestina. Agen Yahudi meminta dana sebesar 250 juta dolar dari Yahudi Amerika untuk program mereka di Palestina. Haganah dan Irgun mulai menyerang desa-desa dan suku-suku Arab untuk membersihkan kawasan pantai antara Haifa dan Tel Aviv dari warga Palestina. 1948: Pada bulan Januari, Haganah membeli senjata dari Cekoslovakia seharga lebih dari 12 juta dolar yang terdiri dari 24.000 senapan biasa, 5.000 senapan mesin dan 25 peluncur mortir. Pada bulan Maret Haganah memulai program bersenjata bernama “Rencana Dalet” untuk memaksakan otoritasnya secara militer atas negara Yahudi yang ditetapkan PBB dan mencaplok sebagian besar wilayah Palestina yang disetujui PBB. Truman, Presiden Amerika, dalam satu pertemuan rahasia dengan para pemimpin Yahudi mengumumkan dukungannya terhadap deklarasi pendirian Israel di hari yang telah ditentukan. Delegasi Amerika di PBB mengusahakan perdamaian antara Yahudi dan Arab melalui Dewan Keamanan. Pada tanggal 8 April, Abdul Qadir al-Husayni, Komandan Palestina, terbunuh di desa Qastal, dekat Yerusalem al-Quds. Pada tanggal 9 April, Irgun (dipimpin oleh Begin) dan Stern membunuh 250 penghuni desa Deir Yasin dekat al-Quds untuk menebar ketakutan warga Arab sehingga mereka meninggalkan Palestina. Rencana Dalet terus berlanjut dengan penghancuran desa-desa Palestina sampai ke jalan besar Tel Aviv menuju al-Quds. Haganah menduduki daerah Galilee dan Thabariya. Warga Palestina di daerah ini terpaksa mengungsi. Dengan mengosongkan Haifa, pasukan Inggris membuat Haganah dengan mudah menguasai kota tersebut. Warga Palestina melarikan diri di bawah serangan bertubi-tubi bom. Irgun juga melakukan hal sama di Yaffa. Sampai akhir bulan April, al-Quds Barat dikuasai Haganah dan warga Palestina terusir. Sampai awal bulan Mei, hampir 200 ribu warga Palestina tergusur dari tanah mereka. Pada tanggal 14 Mei, diumumkan pendirian pemerintahan Israel. Amerika dengan segera mengakui eksistensi Israel secara resmi. Sehari kemudian, kekuasaan Inggris berakhir. Sementara itu, Haganah sibuk menaklukkan Quds Timur yang merupakan kota kuno. Pasukan Libanon melewati wilayah perbatasan dan menduduki beberapa desa. Pasukan Yordania juga wilayah perbatasan dan menduduki Quds Timur. Pasukan Iraq menguasai Nablus, Jenin dan Tulkarm. Pasukan Mesir bergerak menuju pesisir Pantai Mediterania, menuju Bethlehem dari arah lain dan bersatu dengan pasukan Arab lainnya. Pasukan Suriah menguasai beberapa desa Yahudi. Pada tanggal 22 Mei, Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata dan baru terlaksana pada tanggal 11 Juni. Count Bernadotte wakil Dewan Keamanan PBB di Palestina mengajukan usulan baru yang ditolak oleh kedua pihak. Pada tanggal 7 Juli, Israel melanggar genjatan senjata tetapi dalam perang beberapa hari itu Israel tidak memperoleh hasil yang berarti. Gencatan senjata berikutnya juga dilanggar pada tanggal 18 Juli. Usulan Bernadotte tentang penggantian peta kedua negara dan kembalinya para pengungsi Palestina juga ditolak. Pada tanggal 17 September, Bernadotte dibunuh oleh kelompok Stern. Pada bulan Oktober dan November, Israel bergerak ke selatan dan utara. Mereka menguasai selatan Libanon hingga kedalam 15 kilometer dan mengusir warga Libanon. 1949: Pada bulan Februari, terjadi genjatan senjata antara Mesir dan Israel dan Jalur Gaza tetap berada di bawah kendali Mesir. Pada bulan Maret, Israel bergerak menuju Gurun Naqeb dan sampai ke Teluk Aqaba. Dalam genjatan senjata dengan Libanon, Israel keluar dari banyak wilayah yang dikuasai Libanon. Dalam genjatan senjata dengan Yordania pada bulan April, pesisir barat Sungai Yordania, terdiri atas Nablus, Jenin, dan Tulkarm tetap berada di bawah kendali Yordania dan Quds Barat di bawah kendali Israel. Pada bulan Juli, dalam gencatan senjata antara Suriah dan Israel, disetujui pembentukan kawasan sipil di antara kedua negara. Populasi Yahudi yang tadinya berjumlah 1/3 total penduduk Palestina dan menguasi 6% tanah Palestina, setelah perang berakhir mampu menguasai 75% Palestina. Gaza bersatu dengan Mesir dan sisanya bersatu dengan Yordania. David Ben Gurion, yang sampai akhir tahun 1948 adalah menteri pertahanan Israel, kini menjadi perdana menteri dan mengubah Haganah menjadi Angkatan Bersenjata Israel. Akibat perang dan dicekam ketakutan, kurang lebih 1 juta warga Palestina tergusur dan mengungsi ke kamp-kamp di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Suriah dan Libanon atau di berbagai tempat lainnya. Namun, menurut sumber Israel, jumlah pengungsi berkisar 500 ribu orang. Dalam resolusi Majlis Umum PBB sebelum perang berakhir, disebutkan bahwa warga Palestina yang terusir akan dianggap sebagai pengungsi bersama anak cucu mereka dan berhak mendapat hak istimewa dari UNRWA-PBB. Beberapa tahun kemudian, terjadi ribuan bentrokan antara Israel dan Palestina. Sekitar 3-5 ribu warga Palstina yang umumnya tidak bersenjata, terbunuh. 1951: Badan Intelijen Israel (Mossad) terbentuk. Disepakati kerjasama yang luas dengan CIA. 1953-1955: Pembunuhan massal seratus warga Palestina oleh Pasukan Khusus Israel dipimpin oleh Kapten Ariel Sharon. Teror dan pengusiran warga Palestina terus berlanjut secara sistematis. Beberapa kali Israel melanggar batas perjanjian dan terus menyerang pengungsi-pengungsi Palestina. 1956: Pada akhir Oktober, lima puluh warga Palestina di pedesaan Kafar Qassem dibunuh secara massal. Pada saat yang sama, dengan menyerang Mesir, Israel bergerak menuju terusan Suez. Serangan yang terkenal sebagai Perang Sinai ini berakhir dengan pendudukan Sinai dan Gaza selama 4 bulan. Awal November, ratusan warga Palestina di Gaza dibunuh tentara Israel. Berdasarkan perjanjian rahasia Israel, Inggris dan Perancis, dua negara kuat Eropa ini menyerang daerah terusan Suez dan Mesir dengan alasan menjaga keamanan pelayaran di Terusan Suez. Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser, memerintahkan penutupan kanal dengan menenggelamkan beberapa kapal. Dengan pendudukan sebagian daerah Mesir, Inggris dan Perancis yang tidak mampu lagi memulai periode baru kolonisasinya, terpaksa mundur sampai akhir Desember karena tekanan PBB. Dua bulan kemudian, berbekal fasilitas-fasilitas di antaranya bantuan rahasia Amerika dalam program nuklirnya, Israel mengosongkan Gaza dan Sinai. Resistensi Abdul Naser dan kembalinya kekuasaan Mesir atas daerah-daerah pendudukan, menjadikan Abdul Naser dikenal sebagai pahlawan nasional dan figur sukses dunia. 1957-1986: Sebagai lanjutan persetujuan rahasia Israel dan negara-negara Barat, terutama Perancis, produksi senjata nuklir Israel dimulai. Bekerjasama dengan Perancis, reaktor nuklir Israel Dimona mulai dibangun di gurun Naqeb. Pada tahun 1962, mulai dikerjakan pengolahan uranium menjadi plutonium untuk pembuatan bom atom. Sampai tahun 1966, pakar Perancis berada di pusat nuklir Dimona. Pada tahun 1968, produksi bom nuklir dimulai sebanyak 5 bom setiap tahunnya dan pada tahun 1985, Israel sudah mempunyai 200 bom atom. Pada tahun 1983, Marcus Kleinberg dihukum penjara seumur hidup dalam sel isolasi dengan tuduhan membocorkan agenda senjata biologis Israel. Pada tahun 1986, Mordecai Vanunu dihukum 18 tahun penjara isolasi dengan tuduhan membocorkan rahasia senjata nuklir Israel. 1958: Organisasi Fatah dibentuk oleh Yasser Arafat (Abu Ammar), Salah Khalaf (Abu Ayad), dan Khalil al-Wazir (Abu Jihad). Dari markas mereka di Kuwait, mereka membentuk kader-kader di berbagai kamp pengungsian di Yordania, Suriah dan Libanon untuk mengobarkan perlawanan bersenjata demi membebaskan Palestina dan pemusnahan Zionisme. Sampai tahun 1963, satu-satunya negara Arab yang membantu Fatah hanya Aljazair baru meraih kemenangan revolusi. 1964: Demi membantu pembentukan PLO (PLO), Liga Arab membantu Ahmad Shuqayri. Dewan Nasional Palestina juga dibentuk. 1965: Pada hari pertama di tahun baru, terjadi operasi militer pertama Fatah (organisasi gerilyawan Palestina) berupa peledakan pipa air minum Israel. 1967: Perang ketiga antara Israel dan Arab yang terkenal dengan Perang Enam Hari berlangsung dari tanggal 5-10 Juni. Sejak dua bulan sebelum perang, Israel telah menduduki jalur perbatasan sipil Suriah. Sebagai balasan, Abdul Naser menutup mulut teluk Aqaba sampai laut Merah. Pada hari pertama pertempuran, serangan mengejutkan Israel ke bandara-bandara Mesir, Suriah dan Yordania melumpuhkan sebagian besar kekuatan udara negara-negara ini. Kemudian, Israel merebut Jalur Gaza dan Gurun Sinai dari Mesir, al-Quds dan Tepi Barat dari Yordania, serta Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Persiapan perang Israel terpenuhi berkat kerja sama intelijen dan militer dengan Amerika. Moshe Dayan, sebagai menteri pertahanan dan Yitzhak Rabin, sebagai Kepala Staff Angkatan Bersenjata Israel. Selang beberapa bulan, rencana pembangunan pemukiman Zionis dimulai dan dalam tempo setahun setelah perang, pembangunan 14 pemukiman di beberapa wilayah pendudukan telah selesai. Lebih dari 12 ribu orang Yahudi tinggal di sana. Lebih dari 400 ribu warga Palestina terusir karena perang dan 900 tentara Mesir tawanan Israel mati dibunuh. 1968: Pada bulan Maret, Fatah yang akhirnya mendapat dukungan dari Abdul Naser, terlibat pertempuran dengan Israel di daerah perbatasan Yordania bernama al-Karamah. Kemenangan Fatah membuat ribuan gerilyawan lainnya bersatu dengannya. Fatah mengumumkan tujuan mereka adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina, pemberian hak yang sama pada kaum Yahudi, Kristen dan Muslim, pembentukan negara sekuler dan menolak Resolusi PBB No. 242 dengan alasan di dalamnya tidak disebutkan hak-hak warga Palestina. Kini Fatah menjadi kelompok terbesar di PLO. Pemimpin Fatah, Yasser Arafat, terpilih menjadi ketua PLO berdasarkan putusan Dewan Nasional Palestina. George Habash membentuk Front Rakyat Pembebasan Palestina sebagai salah satu organisasi di bawah PLO. Ia adalah seorang nasionalis Kristen yang berubah menjadi Marxis pasca kekalahan nasionalisme Abdul Naser dalam perang enam hari. Untuk menarik perhatian dunia berkaitan masalah Palestina, dalam waktu dua tahun, front ini membajak empat pesawat Israel dan Barat. 1969-1970: Demi mencegah keberlangsungan cengkeraman Israel atas daerah pendudukan, setelah gagalnya berbagai usaha diplomasi dan resolusi PBB, Abdul Naser melanjutkan perang melawan Israel di seberang Terusan Suez. Serangan udara Israel yang dahsyat di daratan Mesir mulai berkurang setelah di sana didirikan sistem pertahanan udara canggih. Pada bulan Agustus 1970, disetujui perjanjian genjatan senjata. Pada tahun ini, Abdul Naser meninggal dunia dan Anwar Sadat menjadi penggantinya. 1970: Kehadiran lebih dari sejuta pengungsi Palestina di Yordania, khususnya kelompok bersenjata Palestina yang aktif pasca perang 1967 dan getol melancarkan serangan Israel dari wilayah Yordania menimbulkan masalah bagi pemerintah Yordania yang sangat tergantung pada bantuan-bantuan Barat dan telah menyetujui perjanjian damai dengan Amerika. Pada bulan September, dengan dukungan rahasia dari Amerika dan Israel, Yordania menumpas menghancurkan organisasi politik dan militer Palestina. Tempat pengungsian orang-orang Palestina menjadi arena perang berdarah. Sebanyak 4.000 pengungsi Palestina tewas dan warga Palestina terpaksa memindahkan pusat kegiatan mereka ke Libanon. Pada tahun-tahun yang akan datang, Libanon menjadi pusat penting pelatihan kekuatan revolusi berbagai negara di dunia yang dipimpin oleh para pejuang Palestina. Hal ini sangat membahayakan Barat. 1972: Ghassan Kanafani, pakar bahasa dan seniman Palestina, tewas dalam ledakan mobil di Beirut. Pada tanggal 5 september, kelompok September Hitam yang terbentuk setelah pembunuhan massal warga Palestina oleh Yordania pada bulan September 1970, menyandera sembilan atlet Israel di komplek Olimpic Munich. Dua orang Israel lainnya terbunuh. Di bandara, pasukan keamanan melakukan serangan yang menyebabkan semua sandera dan beberapa orang Palestina terbunuh. Ribuan wartawan hadir di bandara dan dunia menyadari masalah Palestina. Tiga hari kemudian, dalam serangan udara Israel di kamp-kamp pengungsi Palestina di Suriah dan Libanon, ratusan warga sipil tewas. Kemudian Mossad meneror 12 tersangka Palestina. 1973: Perang keempat Arab-Israel bernama Perang Oktober, Perang Ramadhan, atau perang Yom Kippur, berlangsung dari tanggal 6 sampai 25 Oktober. Kali ini, serangan mengejutkan dari Mesir dan Suriah dimulai. Tujuan mereka adalah membebaskan kawasan yang diduduki Israel pada tahun 1967, sebab usaha diplomasi selama enam tahun tidak berhasil. Dengan cepat, Amerika mengirim bantuan militernya lewat udara kepada Israel. Sebagai jawaban, negara-negara Arab produsen minyak memboikot suplai minyak ke negara-negara pendukung Israel. Ketika Israel melakukan serangan balasan dan memukul mundur pasukan ketiga Mesir, di Moskow Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri Amerika, berusaha membuat pejanjian damai demi mempertahankan kedudukan Israel. Hasilnya, pada tanggal 22 Oktober, melalui resolusi No. 338, Dewan Keamanan mengumumkan genjatan senjata. Tapi Israel melanggarnya dan menyerang Dataran Tinggi Golan dan Terusan Suez. Uni Soviet mengancam akan campur tangan membela Mesir dan Amerika mengancam akan ikut campur mendukung Israel. Pada tanggal 25 Oktober, dalam Resolusi No. 340 Dewan Keamanan PBB, diumumkan perang telah berakhir. Pada masa ini, Amerika memberikan 33,5 ton senjata, 40 pesawat Phantom, 48 mesin pengebom Sky Hawk dan 12 pesawat pengangkut C-130 kepada Israel. Dalam perang ini, mitos tak terkalahkan bagi Israel hancur dan nama Moshe Dayan, Menteri Pertahanan Israel tercemar. Sebagai konsekwensinya, pada tahun berikutnya Perdana Menteri Golda Meir terpaksa membubarkan kabinetnya dan mengundurkan diri. Misi damai jangka panjang Kissinger merupakan awal dari proses panjang usaha Amerika untuk mendamaikan Arab dan Israel dan memperkuat posisi Israel untuk tiga tahun ke depan. Penggunaan ancaman minyak oleh negara-negara Arab menimbulkan krisis ekonomi yang mengejutkan di Barat hingga mempengaruhi kondisi politik pada tahun-tahun berikutnya. 1975–1990: Setelah pendirian beberapa organisasi Palestina pada awal tahun 1970-an, persaingan politik antara kaum Muslim dan Kristen semakin menguat. Pada bulan April 1975, setelah serangan kaum Palangis terhadap warga Palestina, sebuah perang sipil meledak di Libanon. Kamal Jonblat, pimpinan Gerakan Nasional Libanon, mengorganisir Muslim Libanon, dan Camil Shamoun, pimpinan Front Rakyat Libanon, mengorganisir orang-orang Palangis. PLO bergabung dengan kaum Muslim. Tujuan utama kaum Muslim Libanon adalah pembenahan politik negara demi kepentingan mayoritas Muslim sedang tujuan kaum Palangis adalah mengusir warga Palestina dari Libanon dan memperoleh supremasi politik. Dalam tempo setahun, kaum Muslim dan warga Palestina dapat menguasai 70% wilayah. Suriah yang cemas akan campur tangan Israel, memasuki Libanon dan memegang kendali di negara itu pada tahun 1976–1978. Tapi pada tahun 1978, Israel menyerang Libanon dan mendirikan pemerintahan boneka Palangis di daerah-daerah kaum Kristen. Pada tahun 1982, sekali lagi Israel menyerang dengan kekuatan penuh demi mengakhiri perang sipil di Libanon sesuai keinginannya. Pada tahun yang sama, beberapa Organisasi Palestina pindah dari Libanon, namun perang sipil masih terus berlangsung. Pada tahun 1989, persetujuan Perdamaian Thaif ditandatangani dan pada tahun 1990, perang berakhir. 1997: Partai Likud, yang terdiri dari semua kelompok sayap kanan Israel, memperoleh kekuatan besar di bawah kepimpinan Menahem Begin. Dalam tempo setahun, perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel melalui pembicaraan damai antara Jimmy Carter, Manehem Begin, dan Anwar Sadat, menghasilkan pembagian front opisisi melawan Israel. Moshe Dayan, Menteri Luar Negeri Kabinet Begin, memiliki peranan sangat penting dalam perundingan ini. 1978: Pada bulan Maret, berbekal alasan palsu menyerang teroris, Israel menyerang Libanon dengan 20 ribu tentara (di kemudian hari disebut Operasi Litany) dan menduduki lebih dari 2.000 km² tanah teritorial Libanon. Israel mendeklarasikan sebidang tanah sejauh 10 km sebagai zona keamanannya, namun secara praktis Israel menduduki seluruh daerah di selatan Sungai Litany. Hasilnya, 220 ribu warga Libanon dan 65 ribu warga Palestina kehilangan rumah dan menjadi pengungsi, dan sekitar 1.000 orang terbunuh. Beberapa bulan berikutnya, Saad Haddad, seorang pimpinan pasukan pemberontak Libanon bertanggung jawab menjaga daerah ini demi kepentingan Israel dan menamai pasukannya dengan Pemerintahan Libanon Merdeka. Pada bulan September, ditandatangani perjanjian Camp David antara Begin dan Sadat di Amerika. Berdasarkan perjanjian ini, Israel bersedia mundur dari Sinai Peninsula, Mesir bersedia berdamai dan berhubungan normal dengan Israel, Tepi Barat dan Jalur Gaza akan memperoleh otonomi internal dan pembangunan pemukiman Zionis akan dihentikan. Praktiknya, hanya terjadi pengunduran pasukan dari Sinai dan terciptanya hubungan normal antara dua negara sampai tahun 1982. Amerika memberikan imbalan 7 milyar dolar pada Israel. Perjanjian damai berakhir pada bulan Maret 1979 tanpa terlaksananya syarat-syarat lain. 1979: Kemenangan Revolusi Islam Iran dan tergulingnya Syah yang merupakan sekutu terpenting Israel di kawasan. Kedutaan Israel di Tehran berubah menjadi kedutaan Palestina dan semua hubungan politik, ekonomi, dan militer Iran-Israel terputus. 1980: Kelompok ekstrimis Ghos Amonim menyerang tiga walikota Palestina dan merencanakan pengeboman Masjid al-Aqsha serta Kubah al-Sakhrah, berusaha menyulut api peperangan antara Israel dan Arab. Pada dekade 1980, jumlah anggota kelompok ini mencapai 50 ribu orang. 1981: Pada bulan Juni, pesawat-pesawat Israel menghancurkan perlengkapan nuklir Irak. Di Mesir, saat arak-arakan peringatan perang Oktober, Presiden Anwar Sadat dibunuh oleh Khalid Islambuli karena perdamaiannya dengan Israel. Hosni Mobarak, sekretarisnya, menjabat sebagai presiden. Pada bulan Desember, Israel mengumumkan Dataran Tinggi Golan masuk ke dalam daerahnya. Organisasi Jihad Islami Palestina ikut serta dalam aksi bersenjata dan aksi Intifada kelak. 1982: Pada bulan Juni, dalam perang besar yang dinamai Perdamaian di Galilee, Menteri Pertahanan Israel, Ariel Sharon berusaha mencapai beberapa tujuan di Libanon sebagai berikut: menghancurkan berbagai organisasi perlawanan Palestina, mengusir warga Palestina dari Libanon, mewujudkan sebuah sistem Kristiani baru yang setia kepada Israel di Libanon, menguasi tanah-tanah Suriah melalui Libanon dan memindahkan aliran air sungai Libanon ke Israel. Beirut terkepung. Dalam waktu yang cukup lama, air dan listrik putus. Pada bulan September, tentara pendudukan memasuki Beirut. Tak lama kemudian, presiden boneka bernama Bashir Gemayel dibunuh dan Israel menarik diri dari Beirut. Saat inilah, warga Palestina yang tinggal di kamp Shabra dan Shatila dibunuh secara massal oleh kaum Palangis, dengan dukungan Jenderal Ariel Sharon. Korban pembunuhan massal yang hanya berlangsung selama 48 jam berjumlah lebih dari 3.000 orang. Tentara Amerika, Inggris, dan Perancis memasuki Beirut demi menjaga keamanan. Dalam beberapa operasi militer, mereka malah menguntungkan kaum Palangis. Sekitar 19 ribu orang terbunuh di Libanon, 32 ribu orang luka berat dan ½ juta orang kehilangan tempat tinggal. Sedangkan kerugian Israel, 600 orang terbunuh dan 3.500 orang terluka. PLO dipindahkan dari Libanon ke Tunisia. 1983: Pada bulan Agustus, pemerintahan Begin yang mengalami tekanan akibat kerugian Israel di Libanon dan inflasi tahunan sebesar 400 % akhirnya jatuh. Bibit-bibit perlawanan berbasis aksi serangan bunuh diri mulai bermunculan di Libanon. Pada bulan April, kedutaan Amerika di Beirut meledak dan 63 orang termasuk para petinggi CIA terbunuh. Pada bulan Oktober, basis marinir Amerika di Beirut meledak dan 241 tentara Amerika terbunuh. Dalam ledakan di basis militer Perancis, 59 prajurit terbunuh. Dalam ledakan lain yang terjadi di basis militer Israel di Tyre, 60 prajurit Israel terbunuh. 1984: Pada bulan Maret, setelah aksi serangan mati syahid yang mengakibatkan tewasnya ratusan tentara Barat, pasukan militer Amerika dan kekuatan Barat lainnya meninggalkan Libanon. Kerugian berat dialami Israel akibat serangan-serangan yang dilancarkan oleh muslim Syiah di Libanon. Aksi yang dilakukan kaum Syiah menggagalkan upaya Israel untuk menduduki Libanon dan menyebabkan kekuatan militer pemerintahan Israel terbelah. Selama setahun berikutnya, Israel selangkah demi selangkah mundur dan hanya menjaga zona militer sebelumnya seluas 1.100 km² yang merupakan 10% luas tanah Libanon. Sejak bulan April, komandan pasukan pemberontak yang menjaga kepentingan Israel adalah Antoine Lahad. Tahun-tahun berikutnya, organisasi-organisasi perlawanan Syiah Libanon melakukan berbagai serangan berat melawan kekuatan militer Israel di utara Libanon. Organisasi Amal dan Hizbullah bekerja sama dalam perlawanan ini. Karena Hizbullah adalah organisasi yang lebih muda, beberapa tahun kemudian Hizbullah berubah menjadi musuh terberat Israel. Organisasi ini juga ikut serta dalam berbagai aktivitas politik dan sosial Libanon. 1985: Agen-agen rahasia Israel dan Amerika membom beberapa kota berpenduduk Syiah di di Libanon yang menimbulkan korban dan kerugian dahsyat. Ledakan bom-bom mobil masih terus berlangsung sampai tahun berikutnya. Pada bulan Oktober 1985, serangan udara Israel menghancurkan markas besar PLO di Tunisia dan mengakibatkan tewasnya 56 warga Palestina. 1987: Pada tanggal 9 Desember, gerakan Intifada atau kebangkitan rakyat Palestina dimulai di kamp pengungsian di Jabaliah, Jalur Gaza. Ribuan orang berdemonstrasi karena terbunuhnya empat orang warga Palestina. Beberapa hari kemudian, gerakan menyebar ke seluruh Gaza, Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Para pemuda dan anak-anak ikut serta dalam perjuangan melawan pasukan Israel dengan menggunakan batu dan lemparan bom-bom molotov tanpa rasa takut akan tembakan-tembakan senjata pasukan Israel. Bentuk perjuangan tak terduga ini memberikan inisiatif aksi kepada generasi muda Palestina yang sudah lelah akan langkah-langkah mandul generasi kemarin, perundingan-perundingan dan transaksi-transaksi di balik layar. Para pemimpin Intifada adalah orang-orang berpendidikan yang menguasai bahasa dan taktik perang Israel. Mereka melakukan beberapa cara seperti serangan, boikot dan taktik cerdik lainnya dalam melawan musuh. Jaringan agen rahasia Israel berjumlah 20 ribu orang (Shin Beth) yang ada di Palestina hancur akibat Intifada. Mengendalikan Palestina menjadi begitu sulit hingga pada tahun 1993, Israel terpaksa memberikan hak otonomi kepada rakyat Palestina. Tak lama setelah Intifada dimulai, Syaikh Ahmad Yasin bersama rekan-rekan seakidahnya dalam Ikhwanul Muslimin mendirikan sebuah gerakan perlawanan Islam bernama Hamas yang bertujuan membasmi pendudukan dan mendirikan pemerintahan islami di seluruh kawasan Palestina. Selain dalam aktivitas militer, Hamas juga ikut dalam aktivitas sosial dan pemberantasan kemungkaran. Penangkapan Syaikh Yasin pada tahun 1979 tidak mempengaruhi Hamas sedikit pun sebab Hamas bukan organisasi yang tersentralisasi. 1988: Khalil al-Wazir (Abu Jihad), orang kedua PLO, diteror oleh Israel dan tewas di Tunisia. Pada bulan November, Dewan Nasional Palestina memproklamirkan berdirinya Negara Palestina dengan Yaser Arafat sebagai presiden. Proklamasi ini diakui oleh 91 negara. Arafat mengumumkan berakhirnya aksi-aksi bersenjata melawan Israel dan ia menganggap Palestina yang terdiri dari Jalur Gaza, Tepi Barat, Sungai Yordania, dan Yerusalem Timur akan berdampingan damai dengan Israel. Terjadi kontak kecil antara PLO dan Amerika. Raja Yordania, Hussein bin Talal, memutuskan hubungan administrasi negaranya dengan Tepi Barat yang berarti menyerahkan Tepi Barat kepada Israel. 1989: Pada bulan Juli, agen rahasia Israel menculik dua pemimpin Hizbullah bernama Syaikh Abdoul Karim Ubayd dan Abu Mustafa Dayrani. 1990: Pada bulan Agustus, Irak menyerang Kuwait. Arafat memihak Saddam Husain. Akibatnya, bantuan para pemimpin Arab kepada PLO putus dan warga Palestina yang tinggal di beberapa negara Arab mengalami tekanan. Seusai pendudukan Kuwait dan kekalahan Irak, Arafat berusaha untuk menebus kesalahannya. Sebab kesalahan Arafat adalah Saddam Hosein yang berusaha menarik perhatian bangsa-bangsa Arab dan menyatakan Kuwait akan dibebaskan bila Palestina lepas dari pendudukan Israel. Pada awal perang (tahun 1991) beberapa roket Scud ditembakkan ke Israel yang membuat warga Palestina senang. Berbarengan dengan kesalahan Arafat, bantuan sebagian negara Arab terhadap Palestina beralih ke Hamas. Pada 8 Oktober, di pelataran Masjid al-Aqsha, 23 warga Palestina mati syahid dan 300 orang terluka karena mereka memprotes peletakan batu pondasi rumah ibadah baru Yahudi (Haikal Sulaiman). 1992: Sayyid Abbas Musawi, Sekretaris Jenderal Hizbullah Libanon, syahid dibunuh dengan tembakan roket lewat helikopter Israel. Pengganti beliau adalah Sayyid Hasan Nasrullah yang pada beberapa tahun berikutnya akan menyerang hebat Israel demi mengusir mereka dari Libanon Selatan. Pada bulan Desember, Israel mengasingkan 413 orang anggota Hamas dan Jihad Islami ke Libanon Selatan (Penampungan Marj Jauhar). Hamas dan Jihad ISlam mengambil ilham dari taktik perjuangan Hizbullah untuk perjuangannya di masa mendatang. 1993: Pada bulan Juli, Israel memulai operasi militer di seluruh Libanon dengan menggunakan senjata-senjata moderen yang pernah dipakai dalam perang Amerika melawan Irak. Akibatnya, 130 nyawa melayang, 500 orang terluka dan 300 ribu warga kehilangan tempat tinggal. Seiring kesepakatan antara Libanon dan Israel, disepakati tidak akan ada roket Katyusha yang ditembakkan ke daerah Israel utara sedang Israel berjanji untuk tidak menyerang kawasan pemukiman sipil Libanon. Pasukan perlawanan islami meraih keuntungan dari kesepakatan ini untuk menyerang pasukan Israel di Libanon Selatan. Berbagai perundingan damai antara Israel dan PLO dimulai sejak tahun 1991 di Madrid. Pada bulan Agustus 1993, perundingan kedua pihak berakhir dengan perjanjian Oslo I dalam rangka membentuk pemerintahan otonomi di Gaza dan Jericho. Pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem semakin pesat. Sampai tahun 1995, kontrol beberapa kota diberikan kepada rakyat Palestina (Oslo II) tetapi kota-kota tersebut terpisah satu sama lainnya. Sekitar 72% kawasan Tepi Barat yang terhubung satu sama lainnya berada di bawah kekuasaan Israel. 1994: Pada bulan Februari, Baruch Goldstein, salah satu anggota Gosh Amonim asal Amerika yang tinggal di perkampungan Yahudi Hebron, membunuh 29 warga Palestina yang sedang melakukan shalat subuh di Haram al-Ibrahimi dan melukai puluhan orang yang lain. Tentara Israel tidak berbuat apa-apa untuk menghentikannya tapi jamaah shalat lainnya berhasil membunuh Goldstein. Pada bulan Mei, Pemerintahan Otonom didirikan di Jalur Gaza. Tapi akhirnya, 40% kawasan Jalur Gaza dikuasai Zionis dan pemukiman Yahudi. Bagaikan pulau-pulau yang terpisah satu sama lain, daerah-daerah Palestina terkepung pemukiman-pemukiman Zionis. Perundingan damai antara Israel dan Suriah dimulai. Suriah meminta Dataran Tinggi Golan dikosongkan sebagai imbalan normalisasi hubungan kedua negara. Tapi perundingan gagal. Di bawah pengawasan Amerika, perundingan final antara Israel dan Yordania ditandatangani. Tepi Barat masih dalam pengawasan Israel dan para pengungsi tidak dapat kembali ke sana. Pada bulan Oktober, 350 pendukung Hamas ditangkap oleh Pemerintahan Otonom sebab pasukan Hamas menculik seorang prajurit Israel. Popularitas Hamas makin meningkat. 1995: Pada bulan Oktober, Mossad membunuh Dr. Fathi Shaqaqi, pendiri Organisasi Jihad Islami Palestina di Malta. Operasi ini diawasi oleh Yitzhak Rabin, Perdana Menteri Israel, tapi seminggu kemudian ia mati dibunuh oleh seorang ekstrimis Yahudi. Dr. Ramadhan Abdullah menjadi pengganti Fathi Shaqaqi dan aktifitas Jihad Islami semakin meluas. Selain itu, Organisasi ini juga aktif dalam bidang sosial, politik dan kebudayaan. 1996: Pada bulan April, Israel yang habis kesabarannya akibat kerugian yang diderita di Libanon Selatan, melancarkan sebuah operasi militer yang disebut dengan “Bulir-bulir Kemarahan”. Operasi ini menyebabkan tewasnya 110 pengungsi Libanon di tempat penampungan PBB di Qana. Kutukan masyarakat dunia dan efek politiknya membuat Shimon Peres harus turun dari kursi pemerintahan Israel. Sebanyak 13 prajurit Hizbullah mati syahid dan 26 prajurit Israel tewas. Pada bulan September, warga Palestina melakukan aksi demo besar-besaran karena dibukanya sebuah terowongan di bawah Masjid al-Aqsha. Israel menjawabnya dengan membunuh 40 orang dan melukai 300 orang lainnya. 1997: Pada bulan Januari, sesuai dengan sebuah perjanjian, pusat kota al-Khalil (Hebron) yang di dalamnya terdapat beberapa monumen bersejarah dan makam Nabi Ibrahim masuk dalam pengawasan Zionis dan sisa kota lainnya diserahkan kepada Pemerintahan Otonom. Jumlah penduduk Yahudi yang bermukim di Tepi Barat dan Jalur Gaza lebih dari 160 ribu orang. Sedang jumlah penduduk Yahudi bertempat tinggal di Yerussalam Timur mencapai 180 ribu orang. 1998: Pada bulan Oktober, sesuai dengan perjanjian Maryland, 70% kawasan Tepi Barat beserta jalan-jalan besar, perbatasan-perbatasan dan instalasi utama lainnya berada di bawah kontrol Zionis. Sementara berbagai daerah Palestina benar-benar terpisah satu sama lain tanpa jalur penghubung. 2000: Penjara Khiyam di daerah pendudukan Libanon Selatan ditutup. Dalam penjara ini, bertahun-tahun lamanya tentara Israel dan milisi bersenjata Libanon menahan ratusan warga Libanon penentang Israel dengan kejam tanpa memperhatikan aturan internasional sedikit pun. Sebagaian tawanan yang disiksa dengan keji tewas di sana. Tidak seorang pun dari mereka diadili bahkan sebagian dari mereka adalah remaja-remaja yang masih sangat muda. Sebab ditutupnya penjara ini adalah ketidakmampuan Israel menjaga kekuatannya di Libanon Selatan. Pada bulan Mei, pasukan Israel tidak sanggup lagi berhadapan dengan pasukan Hizbullah dan terpaksa melarikan diri dan meninggalkan Libanon Selatan yang telah dikuasainya 22 tahun lamanya. Hal ini memberikan semangat baru bagi Intifada. Pada akhir bulan September, seiring masuknya Ariel Sharon ke komplek Masjidil Aqsha bersama 1.000 tentara bersenjata dan syahidnya 10 warga Palestina yang memprotes atas kedatangannya, dimulailah gerakan perjuangan baru bernama Intifada al-Aqsha. Serangan bersenjata dan aksi mati syahid pejuang Palestina melawan kekuatan militer Israel meluas ke mana-mana. Pada bulan Juli, perundingan panjang Amerika, Israel, dan Pemerintahan Otonomi di Camp David mengenai Palestina berakhir gagal karena Israel tidak bersedia mengembalikan Yerusalem, tidak bersedia kembali ke perbatasan 1967, dan tidak bersedia menutup pemukiman-pemukiman Zionis atau membiarkan pengungsi Palestina kembali ke kampung halaman mereka. 2002: Pada bulan April, dalam sebuah operasi bernama Dinding Penghalang, pasukan Israel menghancurkan sebagian besar kamp pengungsian Jenin di Tepi Barat. Dalam aksi ini, mereka menghadapi perlawanan sengit warga Palestina. Sebanyak 200 warga Palestina mati syahid, 300 orang luka berat, dan ribuan orang yang lain ditawan. Meski disensor di arena perang, tetapi berita ini tetap terbongkar. Masyarakat dunia mengutuk Israel. Jenin yang saat itu lebih mirip kota yang hancur akibat gempa bumi, diklaim oleh Israel sebagai pusat aktivitas Hamas, Jihad Islami, dan al Fath dalam melatih 23 gerilyawan siap mati. 2003: Seiring rencana baru George W. Bush untuk menyelesaikan masalah Palestina bernama “Peta Jalan”, Yaser Arafat yang tidak dipercayai Amerika dan Israel, menunjuk Mahmud Abbas (bergelar Abu Mazin) sebagai perdana menteri pertama Pemerintahan Otonom dan memerintahkannya membentuk kabinet Palestina. Tak lama setelah itu, Mahmud Abbas mengundurkan diri dan Ahmad Qurai ditunjuk sebagai perdana mentri. Kegagalan rezim Zionis meredam operasi mati syahid yang dilakukan para pejuang Palestina dijadikan alasan oleh Tel Aviv untuk membangun pagarpemisah sepanjang 148 km. 2004: Pada bulan Januari, Hizbullah membebaskan ratusan warga Palestina dan Libanon yang ditahan bertahun-tahun di Israel. Pada tanggal 22 Maret, Syaikh Ahmad Ismail Yasin, pendiri Hamas, gugur syahid akibat serangan helikopter Apache rezim Zionis saat keluar dari masjid setelah sholat Subuh di Jalur Gaza. Pada tanggal 17 April, DR. Abdul Aziz Rantisi, pemimpin Hamas di Gaza, dan anaknya juga ditembak oleh helikopter Apache rezim Zionis. Hamas memilih Khalid Mash’al sebagai pemimpin politik dan membentuk kepemimpinan lain di bagian internal Badan Militer di Palestina. Di tahun ini Yaser Arafat meninggal dunia karena diracun. Jasadnya dimakamkan di kota Ramallah.[im/mt] Views: 757
|
- ATURAN DISKUSI
- Perlu diketahui bahwa, redaksi tidak bertanggung jawab atas komentar yang masuk
- Usahakan komentar tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang masuk ke meja redaksi akan diseleksi.
- Komentar yang membangun dan tidak menghasut akan mendapat respon besar dari redaksi
- Setiap komentar bisa dikomentari secara timbal balik
- SELAMAT BERDISKUSI
|
ISLAM MUHAMMADI_IM ISLAM MUHAMMADI - All right reserved 2008. AKOCOMMENT |